CLASH OF THE TITANS
Lahir dari sebagai dewa namun dibesarkan sebagai manusia, Perseus (Sam Worthington) tak berdaya untuk menyelamatkan keluarganya dari Hades (Ralph Fiennes), dewa penuh dendam dari neraka. Terdesak, Perseus memimpin misi yang berbahaya untuk mengalahkan Hades sebelum Hades dapat merebut kekuasaan dari Zeus (Liam Neeson) dan memboyong neraka ke bumi. Dengan memimpin sekelompok prajurit, Perseus melakukan perjalanan berbahaya ke dunia terlarang. Bertempur melawan iblis dan monster menakutkan, dia hanya bisa bertahan jika dia dapat menerima kuasanya sebagai dewa, menantang nasibnya dan menciptakan takdirnya sendiri.
WHEN IN ROME
Seorang gadis New York yang ambisius (Kristen Bell), begitu kecewanya dengan cinta hingga ia pun ke Roma di mana dia mengambil koin dari sebuah air mancur yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Hal itu malah menyalakan hasrat orang-orang yang pernah melemparkan koin ke dalam kolam itu kepadanya, antara lain: si raja sosis (Danny DeVito) , si pesulap jalanan (Jon Heder), seorang pelukis (Will Arnett) dan seorang model yang sangat narsis (Dax Shepard). Tapi ketika seorang wartawan nan menawan (Josh Duhamel) mengejar dia dengan hasrat yang sama, bagaimana ia tahu jika cinta sang wartawan adalah adalah cinta sejatinya?
OLD DOGS
Charlie (John Travolta) dan Dan (Robin Williams) adalah dua sahabat yang tidak mengerti tentang pentingnya berkeluarga dan arti kehidupan. Mantan istri Dan, Vicki (Kelly Preston), tiba-tiba muncul dan mengumumkan ia dan Dan telah memiliki anak kembar usia tujuh tahun: seorang putra dan seorang putri. Sekarang Dan merekrut Charlie dan bersama-sama mereka harus mengurus si kembar dan seekor anjing. Dengan bantuan dari rekan mereka Ralph (Seth Green), mereka harus berinteraksi dengan berbagai karakter aneh, mulai dari seorang instruktur galak bernama Yancy Devlin (Matt Dillon), sampai ke penghibur anak-anak yang flamboyan, Jimmy Lunchbox (Bernie Mac). Akhirnya Dan dan Charlie belajar arti hidup dan keluarga sesungguhnya.
DATE NIGHT

Pemain: Steve Carell, Tina Fey, Mark Wahlberg, James Franco, Mark Ruffalo, Mila Kunis, Kristen Wiig, Common, Taraji P. Henson
Kebosanan biasanya adalah salah satu masalah yang dihadapi pasangan suami-istri yang telah lama menikah. Saat semua sudah menjadi kebiasaan, tidak ada yang membuat hidup mereka terasa bergairah layaknya ketika mereka baru menikah. Masalah inilah yang dihadapi oleh pasangan Phil Foster (Steve Carell) dan Claire (Tina Fey).
Sebelumnya mereka membuat sebuah 'ritual' yang mereka sebut 'malam berkencan' dengan harapan mereka bisa lepas dari rutinitas sehari-hari agar pernikahan mereka bisa tetap terasa fresh seperti beberapa tahun sebelumnya. Tapi masalahnya, ketika 'malam berkencan' ini sudah mereka lakukan berulang kali, acara itu juga jadi terasa membosankan dan tak beda jauh dengan rutinitas yang lain.
Tak ingin api cinta dalam pernikahan mereka padam, Phil dan Claire pun mencoba membuat acara baru. Bila sebelumnya mereka biasa makan malam bersama dan mengakhirinya dengan nonton film maka kali ini mereka mencoba mengunjungi sebuah BISTRO di Manhattan. Awalnya semua berjalan mulus sampai ada pihak yang mengira pasangan ini adalah orang yang mereka cari.
Dalam waktu singkat, acara 'malam berkencan' ini jadi sebuah petualangan seru yang melibatkan urusan 'bisnis' antara seorang kepala mafia dengan pihak kepolisian. Berawal dari keinginan membuat malam itu jadi sebuah malam yang 'berbeda', Phil dan Claire akhirnya mendapati diri mereka dalam sebuah petualangan yang tak akan mereka lupakan seumur hidup mereka.
Lucu memang sangat subjektif. Tiap orang punya ukuran tersendiri untuk kata lucu. Yang lucu buat satu orang belum tentu lucu buat orang lain. Satu hal yang bisa dipastikan adalah kelucuan itu tak bisa dipaksakan. Kadang justru hal yang tak disengaja bisa memunculkan kelucuan juga. Mungkin itu juga kunci kesuksesan DATE NIGHT ini. Tak ada paksaan. Semuanya terlihat mengalir wajar sehingga justru target sang sutradara membuat film komedi malah tercapai dengan baik.
Selain alur cerita yang berjalan mulus dan tak tersendat-sendat hanya karena ingin memasukkan joke, karakter yang muncul dalam film ini juga terasa meyakinkan. Steve Carell, Tina Fey, Mark Wahlberg, dan Ray Liotta terlihat sangat relaks saat membawakan peran mereka sehingga mau tak mau karakter yang solid ini membuat penonton jadi merasa terlibat dalam alur kisah ini.
COP OUT

Pemain: Bruce Willis, Tracy Morgan, Seann William Scott, Adam Brody
Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan memang diperlukan tekad yang kuat namun bila tekad itu lantas membawa kita pada masalah yang jauh lebih rumit tiba saatnya tekad tadi diuji. Masalah yang sama dihadapi oleh Jimmy (Bruce Willis) dan Paul (Tracy Morgan), dua polisi yang sudah mendekati masa pensiun mereka.
Awalnya, kartu baseball milik Jimmy hilang dicuri orang padahal Jimmy punya rencana khusus untuk kartu koleksinya ini. Jimmy berencana menjual kartu baseball langka itu untuk biaya pernikahan putrinya. Jimmy tak punya tabungan lagi dan kartu baseball itu adalah satu-satunya harapan buatnya.
Jimmy bertekad menangani sendiri kasus pencurian ini namun Paul memaksa untuk ikut. Paul sendiri sebenarnya punya masalah pribadi dengan istrinya namun sebagai partner kerja, Paul tak mau meninggalkan Jimmy begitu saja.
Di tengah penyelidikan, baru Jimmy dan Paul sadar kalau kartu baseball yang hilang itu sekarang berada di tangan kepala gangster yang terobsesi mengumpulkan barang-barang langka seperti kartu baseball milik Jimmy. Dan tibalah saatnya tekad Jimmy dan Paul menghadapi ujian berat.
Dari sepotong sinopsis itu saja bisa diduga kalau film berjudul COP OUT ini dimaksudkan sebagai film komedi yang mengeksploitasi kekonyolan yang terjadi di antara dua orang partner kerja yang saling bertolak belakang. Tema yang sama sempat populer di tahun 1980-an dengan munculnya film-film seperti 48 HOURS atau LETHAL WEAPON. Saat itu tema seperti ini memang bisa memancing tawa para penonton, tapi untuk sekarang humor seperti ini sepertinya sudah mulai basi.
Mungkin kesalahan utama film ini adalah pada naskahnya. Selama ini Kevin Smith, sang sutradara, biasanya mengerjakan film berdasarkan naskah yang ia tulis sendiri namun kali ini ia harus mempercayakannya pada Mark Cullen dan Robb Cullen. Bisa jadi naskah itu memang lucu namun saat divisualisasikan unsur humor itu hilang. Kasus serupa sering terjadi, terutama jika sang sutradara tak bisa melihat sisi lucu dari naskah itu secara visual.
VALENTINE'S DAY

Pemain: Jessica Alba, Jessica Biel, Bradley Cooper, Ashton Kutcher, Alex Williams, Julia Roberts, Jamie Foxx, Anne Hathaway, Jennifer Garner, Patrick Dempsey, Eric Dane, Emma Roberts, Taylor Swift, Taylor Lautner, Queen Latifah, Topher Grace, Carter Jenkins, Shirley MacLaine, Hector Elizondo
Sejak berabad, tanggal 14 Februari selalu dirayakan sebagai hari kasih sayang. Orang menyebutnya hari Valentine. Dengan berbagai cara orang lantas berusaha mengaitkan hari khusus ini dengan ungkapan kasih sayang entah pada sang kekasih atau pada teman dan keluarga. Tanpa di sadari, di balik hari spesial ini sebenarnya ada satu beban yang dirasakan orang-orang saat tanggal 14 Februari makin mendekat.
Saat tanggal 14 Februari makin dekat, orang-orang pun mulai mempersiapkan diri untuk membuat hari ini jadi spesial. Mereka tak ingin hari yang satu ini terlewatkan begitu saja seperti hari-hari biasa dan saat waktu mulai semakin pendek maka beban yang ada di pundak pun terasa semakin berat. Paling tidak itulah yang dialami para penghuni kota Los Angeles yang digambarkan dalam film ini.
Ada seorang serdadu yang sengaja mengambil cuti untuk pulang dari tugasnya di Irak sementara di saat yang sama Holden Bristow (Bradley Cooper) juga bersiap untuk merayakan hari Valentine dengan pasangan gay-nya. Reed Bennett (Ashton Kutcher) di sisi lain ingin memanfaatkan hari spesial ini untuk melamar kekasihnya, Morley Clarkson (Jessica Alba), namun ia akhirnya menyadari bahwa sebenarnya Julia Berlison (Jennifer Garner) adalah wanita yang dicintainya selama ini.
Estelle (Shirley MacLaine), setelah lama menyimpan rahasia, akhirnya memutuskan untuk menceritakan pada suaminya bahwa bertahun-tahun yang lalu ia sempat berselingkuh sementara Kara Yakksi (Jessica Biel) hingga hari Valentine semakin dekat tak juga bisa menemukan teman kencan.
Ada dua hal menarik dari film berjudul VALENTINE'S DAY ini. Pertama, karena judulnya begitu spesifik, apakah film ini masih relevan setelah tanggal 14 Februari nanti? Kedua, karena begitu banyak bintang yang dipasang pada film ini, apakah artinya produksi film lain harus berhenti karena nyaris semua bintang harus syuting film ini? Terlepas dari itu, film ini ternyata tak memberikan apapun selain deretan nama-nama besar yang jadi pendukungnya.
Terlalu banyak plot dalam film ini. Film dengan konsep seperti ini memang menarik. Lihat saja CRASH kalau tidak percaya. Masalahnya untuk meramu begitu banyak cerita dengan tokohnya masing-masing bukanlah pekerjaan mudah. Sedikit saja gagal maka risikonya jadi sangat besar. Kalau naskah tidak cukup kuat dan screen time karakter ini tak cukup lama maka tokoh itu tak akan jadi karakter yang memiliki dimensi utuh.
Benang merah di antara masing-masing karakter dan masing-masing plot ini juga harus cukup kuat sehingga ada satu kesatuan cerita dengan pesan yang ingin disampaikan sang sutradara. Kalau tidak maka ide itu tak akan pernah tersampaikan. Akan lebih efektif rasanya jika memecah film ini menjadi beberapa film komedi romantis dan bisa jadi hasilnya malah akan lebih bagus.
ALICE IN WONDERLAND

Pemain: Johnny Depp, Anne Hathaway, Helena Bonham Carter, Crispin Glover, Mia Wasikowska
Tak terasa waktu telah bergulir dengan cepat. Alice (Mia Wasikowska) kini telah berusia 19 tahun dan melupakan segala petualangan yang sempat ia alami ketika masih kecil. Alice tak akan ingat jika saja petualangan itu tak datang lagi kepadanya tepat ketika ia sedang berada di sebuah pesta.
Alice yang sedang berada di sebuah pesta tiba-tiba menyadari bahwa ia akan segera dilamar di hadapan para pengunjung pesta saat itu. Merasa tak siap menghadapi itu, Alice pun mencoba untuk menghindar. Saat berusaha melarikan diri inilah Alice bertemu White Rabbit (Michael Sheen) yang membimbingnya masuk ke lubang yang ternyata menuju ke Wonderland.
Sepeninggal Alice sepuluh tahun sebelumnya, terjadi sebuah kudeta. Red Queen (Helena Bonham Carter) berhasil mengambil alih kekuasaan dari White Queen (Anne Hathaway). Seluruh penghuni Wonderland hanya bisa menunggu waktu yang tepat sambil mempersiapkan diri untuk merebut kembali kekuasaan dari Ratu yang jahat ini.
Kembali bertemu Cheshire Cat (Stephen Fry), Tweedledee dan Tweedledum (Matt Lucas), March Hare (Noah Taylor), Mad Hatter (Johnny Depp) dan Caterpillar (Alan Rickman), ingatan masa lalu Alice pun kembali. Kini Alice menjadi tumpuan harapan semua penghuni Wonderland yang telah lama hidup dalam tekanan.
Kisah petualangan Alice di Wonderland memang bukan cerita baru. Lewis Carroll telah menulis kisah ini di tahun 1865 dan setelah lewat seratus tahun, kisah ini tetap saja jadi salah satu kisah yang cukup menarik. Sebenarnya kalau mau jujur, kisah Alice di Wonderland ini bukanlah murni cerita untuk anak-anak. Kisah yang ditulis Lewis Carroll ini terlalu 'suram' untuk ukuran anak kecil. Banyak metafora yang tak akan dipahami anak kecil dan sepertinya itulah yang ingin dikomunikasikan Tim Burton kali ini.
Langkah pertama adalah membuat versi plesetan dari kisah klasik ini dan membuatnya lebih bisa diterima generasi sekarang. Tokoh Alice dibuat lebih dewasa dan bukan lagi anak-anak seperti dalam kisah aslinya. Setelah itu Tim memilih aktor dan aktris berkualitas seperti Johnny Depp, Anne Hathaway, dan Helena Bonham Carter lengkap dengan para pakar special effect dan bagian produksi yang juga sama andalnya. Setelah semua beres, barulah Tim Burton bebas mengekspresikan penafsirannya atas Wonderland atau yang di sini disebut Underland.
Hasilnya memang tak sekelam film-film Tim Burton sebelumnya namun cukup mampu memberikan visualisasi pada dunia Wonderland yang selama ini ada di benak Lewis Carroll. Depp seperti biasa tak mengalami masalah dengan karakter 'aneh' semacam Mad Hatter namun sepertinya kali ini yang mencuri perhatian justru adalah Helena Bonham Carter yang bermain sebagai Red Queen.
FROM PARIS WITH LOVE
Richard Stevens (Jonathan Rhys Meyers) tak pernah mengira bahwa bekerja di kedutaan besar Amerika Serikat di Perancis memiliki risiko yang sangat tinggi. Richard sadar bahwa bekerja dalam bidang intelejen memang punya risiko tapi ia tak pernah mengira bahwa risikonya bakal sebesar itu.
Charlie Wax (John Travolta) adalah pria yang membuka mata Richard tentang risiko sebenarnya dari pekerjaan ini. Charlie adalah seorang agen CIA yang dikirim ke Perancis untuk menggagalkan sebuah usaha terorisme yang telah tercium pihak intelijen Amerika. Berbeda dengan Richard, Charlie adalah orang yang lucu namun tak ragu-ragu menembak bila itu diperlukan.
Karena tugas mengharuskan, tak ada pilihan buat Richard selain mendampingi Charlie selagi ia berusaha melacak jejak para teroris ini. Pengalaman baru jelas ia dapatkan. Promosi bisa dipastikan sudah di depan mata. Masalahnya, benarkah Richard Steven sudah siap dengan semua risiko yang akan ia hadapi saat berhadapan dengan para teroris yang sedang ia buru ini?
Murni aksi laga. Tidak lebih dari itu. Bisa dibilang dari awal hingga akhir tak ada hentinya aksi laga menghiasi layar. Tak perlu heran karena naskah film ini ditulis oleh Luc Besson, sutradara asal Perancis yang identik dengan film-film bertema adrenalin seperti DISTRICT 13 ULTIMATUM dan TRANSPORTER 3. Sang sutradara pun tidak asing dengan film laga karena Pierre Morel sempat menjadi sutradara DISTRICT 13 dan mengurus sinematografi film THE TRANSPORTER.
Tidak ada yang salah memang jika film ini lantas bertumpu pada aksi laga murni. Selama penggarapannya bagus dengan naskah dan aktor yang mumpuni, film laga bisa saja jadi film yang menarik. BATMAN BEGINS dan THE DARK KNIGHT misalnya. Sayangnya sutradara FROM PARIS WITH LOVE ini bukan Christopher Nolan dan naskah pun sepertinya memang hanya dibuat untuk merangkai sederet aksi laga yang ada.
Hasilnya, alur kisah memang sangat sederhana namun di sisi lain juga menyisakan banyak 'lubang' yang membuahkan berbagai pertanyaan. Untungnya karakter Charlie Wax dapat diterjemahkan menjadi tokoh yang hidup oleh John Travolta sementara Jonathan Rhys Meyers juga tak terlalu buruk memerankan James Reese walaupun ia masih belum bisa melepaskan dari pakem karakter seperti ini. Selebihnya, bisa jadi hanyalah karakter dua dimensi yang tidak terasa hidup sama sekali.
Soal sajian visual, CGI jelas akan memanjakan mata. Hal yang tak mungkin dilakukan di dunia nyata bisa ditampilkan dengan realistis. Sayangnya koreografi pertarungan yang ada dalam film ini sepertinya masih kurang tertata rapi sehingga tidak terlihat adanya aliran gerakan fisik selama para karakter dalam film ini beradu fisik.
CONFESSIONS OF A SHOPAHOLIC

Pemain: Isla Fisher, Hugh Dancy, Krysten Ritter
Mengatasi kecanduan memang bukan hal yang mudah dan Rebecca Bloomwood (Isla Fisher) sudah membuktikan ini semua. Bagi Rebecca, hobi belanjanya makin hari makin tak bisa dikendalikan dan menyebabkan wanita muda ini terlilit utang. Celakanya, meski ia sadar bahwa persediaan uangnya mulai menipis, Rebecca tetap tak bisa menghentikan ambisi belanjanya.
Satu keinginan Rebecca adalah bekerja di sebuah majalah mode yang terkenal sayangnya ia tak memenuhi syarat untuk menjadi redaktur majalah ini. Akhirnya Rebecca harus puas dengan pekerjaannya sebagai pengisi rubrik di sebuah majalah ekonomi.
Keberuntungan sepertinya masih berpihak pada Rebecca. Hanya dalam waktu singkat, rubrik yang diisi Rebecca menjadi populer. Kesuksesan rubrik ini mau tak mau mengubah Rebecca menjadi seorang pesohor. Sayangnya hobi belanjanya yang makin menggila sudah mulai tak bisa dikendalikan. Kini Rebecca hanya punya dua pilihan: menghentikan hobi gilanya atau kehilangan semua yang ia miliki.
P.J. Hogan, sang sutradara, mencoba meramu dua novel berjudul The Secret Dreamworld of a Shopaholic dan Shopaholic Abroad karya Sophie Kinsella dan menjadikannya sebuah film ringan dengan balutan humor-humor khas Amerika yang kadang sulit dicerna orang Timur.
Masalah pertama dari film ini adalah jadwal tayangnya. Film yang berkisah tentang pecandu belanja ini muncul di saat dunia dilanda krisis ekonomi dan membuat film ini jadi sedikit terasa 'menyakitkan' buat para penonton yang sedang sibuk menghemat pengeluaran. Akibatnya, film yang sebenarnya berisi lelucon ini jadi terasa sebagai sebuah tamparan di wajah para penonton.
AVATAR
Pemain: Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver, Michelle Rodriguez, Stephen Lang, Joel David Moore, Giovanni Ribisi, CCH Pounder, Dileep Rao, Matt Gerald, Laz Alonso, Peter Mensah, Wes Studi
Terjebak di antara dua kubu yang bertikai memang tak pernah menyenangkan dan itulah yang dialami Jake Sully (Sam Worthington) saat ia setuju untuk dikirim ke Pandora. Di planet asing yang dihuni berbagai makhluk ini Jake yang semula berharap bisa memulai hidup baru malah terlibat masalah pelik yang mengharuskannya memilih pihak.
Jake adalah mantan marinir yang mengalami luka parah dalam sebuah pertempuran di bumi. Akibatnya kaki Jake mengalami kelumpuhan total. Ada satu harapan buat Jake. Jika ia mengikuti program Avatar dan dikirim ke planet Pandora maka ia akan kembali bisa berjalan seperti sedia kala meski konsekuensinya Jake akan menggunakan 'tubuh baru'.
Agar memungkinkan buat manusia untuk hidup di Pandora maka mereka dibuatkan satu tubuh buatan dan pikiran para manusia ini akan ditanamkan ke dalam tubuh yang disebut Avatar ini sehingga Avatar ini seolah-olah adalah tubuh mereka sendiri. Tugas Jake adalah menjadi pemandu bagi beberapa manusia yang menggunakan tubuh Avatar untuk mencari sumber mineral baru untuk kepentingan industri di bumi.
Di tengah perjalanan, Jake bertemu Neytiri (Zoe Saldana), bangsa Na'vi penghuni planet Pandora. Seiring berjalannya waktu Jake pun jatuh cinta pada Neytiri. Berawal dari cinta inilah Jake lantas menghadapi dilema antara melanjutkan misinya mengeksplorasi Pandora atau membela kaum Na'vi melindungi Pandora.
Setelah sukses menggarap TITANIC di tahun 1997, nama James Cameron memang jarang terdengar. Di antara film TITANIC dan AVATAR ini praktis hanya ada dua film saja yang ia sutradarai, GHOSTS OF THE ABYSS dan ALIENS OF THE DEEP. Konon James lebih banyak menghabiskan waktu mempelajari kehidupan di dasar samudera dan berbekal pengetahuan ini pula James lantas menggagas film AVATAR ini.
Sejak diperkenalkan, film ini memang mengundang pertanyaan, "Apa yang akan ditawarkan sang maestro ini?" Dan sekarang pertanyaan itu terjawab tuntas, James Cameron kembali mengulang kesuksesan film TITANIC dengan menawarkan sebuah tontonan yang layak mendapat acungan jempol.
Dalam durasi sekitar 160 menit, James mampu menata grafik cerita dengan baik sehingga bagian akhir pun masih menyisakan 'kekuatan cerita' dan bukan hanya sekedar solusi akhir yang murni berisi adegan laga. James memanfaatkan waktu 160 menit itu dengan baik sehingga seluruh aspek dari film ini dapat diekspos dengan baik.
Soal visual, ada yang menyebut CGI adalah pedang bermata dua. Terlalu banyak CGI maka film jadi buruk sementara bila sektor ini tak diperhatikan yang terjadi adalah sajian visual yang tak memuaskan. James sepertinya paham benar dan menempatkan teknologi pada tempat yang seharusnya. Visual efek terlihat sangat realistis terlebih pada ekspresi wajah bangsa Na'vi yang benar-benar mencerminkan emosi yang mereka rasakan saat itu. James mampu membangun sebuah dunia yang penuh imajinasi tanpa harus terjebak dengan eksploitasi CGI yang berlebihan.
Kalaupun ada kekurangan yang terasa sebenarnya adalah ide cerita yang terasa generik. Kalau mau jujur, ide dasar cerita ini tak jauh beda dengan beberapa film yang mencoba mengungkap masalah yang sama seperti DANCES WITH WOLVES atau THE LAST SAMURAI.
ALVIN AND THE CHIPMUNKS : THE SQUEAKQUEL

Pemain: Jason Lee, David Cross, Cameron Richardson, Zachary Levi, Justin Long, Matthew Gray Gubler, Jesse McCartney, Anna Faris, Christina Applegate, Amy Poehler
Meski sudah meraih popularitas bukan berarti pendidikan lantas tak ada gunanya. Itulah yang dipikirkan David Seville (Jason Lee) yang mengirim Alvin (Justin Long) dan kedua temannya ke sebuah sekolah untuk kembali belajar, sesuatu yang tak pernah terlintas di benak Alvin.
Dengan berat hati terpaksa Alvin, Simon (Matthew Gray Gubler), dan Theodore (Jesse McCartney) menuruti kemauan David meski sebenarnya mereka sama sekali tak berminat untuk kembali ke sekolah. Dalam waktu singkat Alvin dan kedua temannya merasa terasing di tengah para manusia yang ada di sekolah ini dan itu adalah siksaan berat buat ketiga chipmunk ini.
Di saat yang bersamaan, Ian Hawke (David Cross) yang gagal mendapatkan Alvin and the Chipmunks berusaha menebus kekalahan ini dengan mencari sekelompok binatang yang mampu menyanyi dan menari layaknya Alvin dan teman-temannya. Pencarian Ian berakhir ketika ia menemukan The Chipettes yang beranggotakan Brittany (Anna Faris, Jeanette (Christina Applegate), dan Eleanor (Amy Poehler). Ian berencana membawa The Chipettes menuju puncak ketenaran seperti Alvin dan kedua temannya.
Liburan akhir tahun adalah saat yang tepat untuk melepas film konsumsi anak-anak seperti ALVIN AND THE CHIPMUNKS: THE SQUEAKQUEL. Alasannya sederhana. Film ini tak akan terlalu menarik buat orang dewasa namun sebaliknya akan menjadi konsumsi sehat buat anak-anak. Dan liburan panjang di akhir tahun seperti ini adalah penyelamat film seperti ini dari kegagalan berlaga di jajaran film-film box office.
Untuk mereka yang tergolong remaja atau malah sudah dewasa, film ini memang tak menawarkan apa pun. Ide cerita terlalu sederhana sementara CGI yang disuguhkan pun jauh dari kata memukau. Kalaupun ada alasan buat mereka menonton film ini bisa jadi hanyalah masalah nostalgia saja. Dibandingkan dengan bagian pertama yang dilepas tahun 2007 lalu, ALVIN AND THE CHIPMUNKS: THE SQUEAKQUEL ini seolah eksklusif untuk anak-anak.
Soal pengisian suara dan akting, tak banyak yang jadi masalah. Para pengisi suara dan aktor bagian pertama tetap dipertahankan pada bagian kedua ini dan sepertinya mereka sudah cukup menguasai lapangan. Memang kesannya biasa-biasa saja kecuali David Cross yang berperan sebagai Ian Hawke dan Wendie Malick yang berperan sebagai Dr. Rubin yang terlihat lebih menonjol dari yang lain.
Sebaliknya, buat anak-anak film ini bisa jadi adalah hiburan yang sangat menarik. Paling tidak, kita patut bersyukur karena di saat film sudah menjadi industri masih ada film yang layak menjadi konsumsi anak-anak.
SHERLOCK HOLMES

Pemain: Robert Downey Jr, Jude Law, Rachel McAdams
Tak ada yang pernah meragukan kalau Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) adalah seorang penyelidik yang handal. Tak ada kasus yang tak bisa dipecahkan oleh Sherlock bahkan yang paling pelik sekalipun. Sherlock dan sahabatnya, Dr. John Watson (Jude Law) adalah tim yang tak terkalahkan.
Pihak kepolisian Inggris sudah sering kali terbantu oleh dua orang yang mahir dalam menyelidiki kasus kejahatan ini termasuk saat Sherlock dan Watson berhasil mengungkap kejahatan penyembah setan bernama Lord Blackwood (Mark Strong) dan membawa pria ini ke tiang gantungan. Kekalahan inilah yang tak bisa diterima oleh Lord Blackwood yang pada hari kematiannya bersumpah akan membalas dendamnya pada Sherlock Holmes.
Tak berapa lama kemudian, sebuah kasus kejahatan kembali mengharuskan Sherlock Holmes dan Dr John Watson turun tangan. Serangkaian tindak kejahatan ini dilakukan bukan oleh sembarang orang. Bila Sherlock dan Watson gagal, maka seluruh negeri Inggris yang jadi taruhannya. Sherlock menduga semua itu ada hubungannya dengan Lord Blackwood yang telah meninggal di tiang gantungan.
Kisah detektif Sherlock Holmes barangkali adalah kisah detektif yang berumur paling panjang sampai saat ini. Pertama kali muncul di tahun 1887, nama detektif rekaan Sir Arthur Conan Doyle ini terus melegenda hingga kini. Namun seiring perkembangan zaman, orang mulai bergeser pada tokoh pahlawan yang lebih modern dan nama Sherlock Holmes pun hanya menjadi legenda lama yang masih hidup di hati para penggemar setia karakter ini.
Guy Ritchie mungkin adalah salah satu dari penggemar Sherlock Holmes yang prihatin dengan kondisi ini dan berusaha membuat tokoh legendaris ini kembali hidup. Langkah pertama yang diambil adalah membuat penafsiran baru atas karakter legendaris ini lalu mengemasnya dalam media hiburan yang populer saat ini. Hasilnya adalah film berjudul SHERLOCK HOLMES ini.
Suka atau tidak suka, visi Guy Ritchie ini tetap layak diacungi jempol karena tak mungkin membangkitkan legenda lama ini tanpa memberinya penafsiran baru. Dan usaha Guy juga tidak berhenti sampai di sini karena secara keseluruhan SHERLOCK HOLMES ini tersaji dengan sangat baik, mulai dari sisi visual hingga akting para pendukungnya.
London tahun 1891 dapat direplika dengan baik oleh Guy Ritchie sementara aksen Robert Downey Jr juga cukup meyakinkan sebagai orang Inggris. Kalaupun ada yang disayangkan justru adalah hilangnya kenikmatan mengikuti kisah detektif legendaris ini karena penafsiran yang lebih menekankan fisik ketimbang pemikiran.
THE UGLY TRUTH

Pemain: Gerard Butler, Katherine Heigl, Cheryl Hines, Eric Winter, Bonnie Somerville
Abby Richter (Katherine Heigl) adalah tipe wanita perfeksionis kalau sudah sampai pada urusan pria. Keinginannya mencari pria yang sempurna berakibat ia tak pernah menjalin hubungan serius dengan pria mana pun. Baginya, ia harus menemukan pria yang 'sempurna' atau tidak sama sekali.
Suatu ketika, Abby yang bekerja sebagai produser acara televisi, mendapat tugas khusus dari atasannya. Dalam 'misi' ini Abby harus bekerja sama dengan Mike Chadway (Gerard Butler), pembawa acara yang yakin bahwa hubungan antara pria dan wanita selalu didasarkan pada seks dan pria ditakdirkan lebih 'tinggi' dari wanita. Prinsip hidup yang berbeda ini membuat kerja sama ini jadi sesuatu yang pada awalnya menjengkelkan.
Abby menganggap tak ada pria yang bisa masuk kategori sempurna sementara Mike jelas menganggap pria lebih superior dari wanita. Mike lantas mengemukakan sebuah teori tentang hubungan asmara antara pria dan wanita dengan harapan 'menyadarkan' Abby agar Abby segera menemukan cintanya. Dengan usaha keras, Mike akhirnya berhasil membuat Abby menemukan cintanya. Sayangnya di saat yang sama Mike mulai jatuh cinta pada Abby.
Kalau THE UGLY TRUTH ini terasa generik, Anda tidak salah. Belakangan muncul tren bahwa sebuah film komedi romantis harus dibuat dengan konsep seperti ini. Hampir tak ada studio besar yang mau mendanai film drama komedi romantis dengan konsep yang menyimpang dari 'aturan' ini. Alasannya jelas, mereka tak mau merugi.
Memang tak ada yang baru dari film ini. Dari awal pun penonton sudah bisa memperkirakan bagaimana akhir dari film ini. Artinya, satu-satunya yang bisa dijadikan tumpuan agar penonton tak beranjak dari tempat duduk hanyalah alur cerita yang menarik dan kemampuan akting sang aktor dan aktris. Dalam kasus THE UGLY TRUTH ini yang paling banyak berperan justru adalah kemampuan akting karena alur cerita sebenarnya sudah tak mampu berbuat banyak.
Dua pemeran utama, Gerard Butler dan Katherine Heigl cukup mampu menghidupkan suasana walaupun kalau mau jujur, karakter Gerard Butler justru yang terasa lebih 'hidup'. Ini agak mengejutkan mengingat naskah film ini di garap oleh tiga orang wanita (Karen McCullah Lutz, Kirsten Smith, Nicole Eastman). Dalam film ini ketiga penulis naskah itu justru berkesan 'membunuh' sang karakter wanita. Tapi terlepas dari itu semua, THE UGLY TRUTH masih cukup layak untuk ditonton walaupun ada kesan seolah menonton sebuah film remake.
THE PROPOSAL

Pemain: Sandra Bullock, Ryan Reynolds, Malin Akerman, Mary Steenburgen, Craig T. Nelson, Oscar Nuñez, Aasif Mandvi, Betty White
Margaret Tate (Sandra Bullock) adalah tipe wanita 'berkuasa' yang tak segan-segan menindas para pria di kantor tempatnya bila hasil pekerjaan mereka tak sesuai dengan apa yang Margaret inginkan. Margaret tak pernah menyadari bahwa cepat atau lambat ia pasti 'memerlukan' bantuan anak buahnya.
Suatu hari, Margaret menghadapi masalah dengan petugas imigrasi dan wanita yang bekerja sebagai editor buku ini terancam dideportasi kembali ke Canada. Terlanjur menikmati kehidupannya di Amerika dan tak ingin karirnya berantakan, Margaret lalu mengaku bahwa ia akan menikah dengan Andrew Paxton (Ryan Reynolds), salah seorang anak buahnya.
'Pasangan mendadak' ini pun lantas berpura-pura bahwa mereka akan segera melangsungkan pernikahan dan memutuskan untuk berlibur di rumah Andrew agar semua tipu daya itu terlihat meyakinkan. Awalnya Andrew merasa keberatan namun karena Margaret memaksa, mau tak mau Andrew setuju meski ia juga mengajukan beberapa syarat untuk bantuannya itu.
Semuanya berjalan lancar sesuai dengan skenario Margaret. Keluarga Andrew sepertinya tak keberatan Andrew menikah dengan Margaret. Celakanya, di saat seharusnya mereka menikah, kesadaran dalam diri Margaret membuatnya memutuskan untuk membatalkan semua rencana gila itu.
THE SPY NEXT DOOR

Pemain: Jackie Chan, Magnus Scheving, Billy Ray Cyrus, George Lopez, Amber Valletta, Madeline Carroll, Will Shadley
Selama bertugas sebagai mata-mata CIA, Bob Ho (Jackie Chan) sering harus menghadapi tugas yang bisa dibilang mustahil diselesaikan. Berbekal semua pelajaran yang ia dapat selama pendidikan dan kecerdikannya, Bob selalu bisa menuntaskan misinya dengan baik. Namun Bob tak tahu kalau sebenarnya misi yang paling sulit justru akan ia hadapi setelah ia mundur dari CIA.
Karena sudah jenuh dengan tugasnya, Bob pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan memulai hidup yang tenang. Bob ingin membina rumah tangga dengan Gillian (Amber Valletta), kekasihnya yang sangat ia cintai. Gillian pun sebenarnya sangat mencintai Bob tapi karena ia sudah memiliki tiga orang anak maka hal pertama yang harus dilakukan Bob adalah membuktikan kalau ia layak menjadi ayah tiri dari ketiga anak Gillian ini.
Suatu ketika Gillian harus pergi ke luar kota dan kesempatan ini dimanfaatkan Bob untuk mengambil hati ketiga anak Gillian. Bob menawarkan diri untuk menjaga ketiga anak Gillian selama Gillian pergi. Awalnya tugas ini saja sudah cukup berat apalagi ketika salah satu dari anak Gillian secara tidak sengaja men-download file rahasia mata-mata Rusia. Dalam waktu singkat para mata-mata Rusia pun berdatangan untuk mengambil file milik mereka.
Kini tugas Bob tidak hanya mengawasi ketiga anak Gillian namun juga harus melindungi ketiga anak ini dari ancaman para mata-mata Rusia yang tak kenal ampun. Tak ada pilihan. Bob hanya bisa melewati semua itu dengan selamat bila ia melibatkan anak-anak Gillian yang artinya ia harus membongkar identitas rahasianya sebagai mata-mata CIA.
Dari sisi tema, THE SPY NEXT DOOR punya kemiripan dengan film Vin Diesel yang berjudul THE PACIFIER. Kesamaan tema memang bukan sesuatu yang layak dipermasalahkan selama dalam penuangannya tak jadi terjebak pada alur kisah film yang lebih dulu muncul. Dalam kasus ini THE SPY NEXT DOOR masih bisa lolos karena tema itu dituangkan dengan cara lain.
Yang jadi masalah di sini sebenarnya adalah soal penyutradaraan. Sepertinya Brian Levant tak mampu mengarahkan para aktor dan aktris sehingga yang terjadi adalah akting yang tak memenuhi standar. Dalam kasus Jackie Chan dan Amber Valleta, chemistry di antara dua orang ini tak bisa muncul. Sepanjang kariernya, Jackie memang tak pernah tampil romantis dan sang sutradara sepertinya juga tak bisa mengarahkan aktor gaek ini untuk bisa romantis.
Dari sisi laga, tak ada yang baru di sini. Film-film Jackie Chan sebelumnya sudah bisa mewakili adegan laga dalam film ini walaupun di titik tertentu sepertinya Jackie sudah mulai terlalu tua untuk beraksi seperti dulu lagi. Untungnya masih ada beberapa momen yang cukup mampu memancing tawa meski di akhir kisah tak terbersit keinginan untuk menonton film ini lagi
UP IN THE AIR

Pemain: George Clooney, Vera Farmiga, Anna Kendrick
Memberhentikan karyawan memang bukanlah pekerjaan mudah. Ada unsur emosional yang kadang membuat proses ini jadi lebih rumit dari yang seharusnya. Di saat seperti ini, diperlukan seorang pakar yang benar-benar tahu bagaimana mengatasi emosi dan orang itu adalah Ryan Bingham (George Clooney).
Seumur hidupnya, Ryan tak pernah punya siapa-siapa. Ia sengaja melepaskan diri dari hubungan secara emosional dengan siapa pun dan itulah yang membuat Ryan sukses sebagai seorang pakar pengurangan karyawan. Tanpa ikatan emosi pada siapa pun atau apapun, target dalam hidup Ryan hanya satu, mencapai 10 juta mil dengan penerbangan yang sama agar ia mendapatkan kartu eksklusif dari maskapai penerbangan yang biasa ia gunakan.
Hidup Ryan praktis adalah dari satu hotel ke hotel lain. Berbagai tempat sudah ia datangi dan pesawat terbang, buatnya, tak beda dengan mobil buat kebanyakan orang. Buat kebanyakan orang, Ryan adalah orang yang tak punya emosi namun sebenarnya pendapat itu tak sepenuhnya benar. Ryan punya emosi hanya saja ia orang yang sangat handal mengendalikan emosinya.
Semuanya berjalan lancar sampai Ryan harus 'mengawal' Natalie Keener (Anna Kendrick), karyawan baru di tempat Ryan bekerja. Berlatar belakang sangat berbeda membuat hubungan ini awalnya terasa sangat kikuk namun seiring waktu, Ryan belajar untuk melihat hidup dari sisi pandang orang awam dan ini membuat keseimbangan yang selama ini ia pertahankan jadi goyah. Munculnya karakter Alex Goran (Vera Farmiga) makin menambah kompleks hidup Ryan yang semula sangat simple.
Ada beberapa hal yang menarik dari film ini. Yang pertama, film ini berani lepas dari pakem film Hollywood yang selama ini selalu berakhir bahagia. Jason Reitman berani lepas dari formula itu dengan risiko penonton bakal kecewa. Nyatanya hasil olahan Jason ini tak mengecewakan karena sebagian besar penonton ternyata sama sekali tidak kecewa dengan akhir yang sedikit menyedihkan ini.
Yang kedua adalah alur cerita yang sederhana nyaris tanpa subplot. Satu-satunya subplot yang ada hanyalah kisah keluarga Ryan yang memang tak bisa dilepas dari alur kisah utama. Bagusnya, dengan alur cerita yang sederhana ini Jason mampu membuat ending yang mengejutkan dan tak terduga sama sekali.
Yang ketiga tentu saja adalah kemampuan akting tiga pemain utama dan chemistry di antara mereka bertiga. Vera Farmiga tampil mantap sebagai wanita pebisnis yang nyaris tanpa emosi, persis seperti peran yang dibawakan oleh George Clooney. Anna Kendrick juga tampil memuaskan sebagai seorang wanita muda yang naif sementara Clooney sendiri sepertinya tak perlu dipertanyakan lagi. Seperti biasa aktor ini tampil mantap dengan gaya cool, senyuman, dan timing yang pas saat mengucapkan dialog. Hasilnya, sebuah film yang enak ditonton sebagai hiburan meski ending-nya tak bisa dibilang happy.REMEMBER ME

Pemain: Robert Pattinson, Emilie de Ravin, Pierce Brosnan, Chris Cooper, Lena Olin
Sejak saudaranya meninggal, hidup Tyler Roth (Robert Pattinson) tak lagi sama seperti sebelumnya. Yang paling berat buat Tyler adalah saat kematian saudaranya ini justru malah membuat kedua orang tuanya, Charles (Pierce Brosnan) dan Diane (Lena Olin), tak lagi bisa akur.
Di titik ini, Tyler merasa tak ada orang yang bisa mengerti dirinya dan jiwa pemberontaknya semakin membuat ia jauh dari keluarganya. Buat Tyler, hidupnya sudah berakhir dan tak ada gunanya lagi, setidaknya sampai ia bertemu Ally Craig (Emilie de Ravin). Ally sendiri sebenarnya juga punya masalah pribadi yang tak kalah rumitnya. Pasca terbunuhnya ibunya, Ally merasa tak ada gunanya lagi melanjutkan hidup.
Seiring waktu, pelan-pelan Ally mulai bisa menyembuhkan luka-lukanya dan kejadian itu membuat Tyler terpesona. Hubungan yang semula hanyalah persahabatan itu berangsur berubah menjadi cinta. Sejak saat itu Tyler mulai bisa merasakan kebahagiaan yang semula ia anggap sudah tak ada lagi. Sayang, terungkapnya sebuah rahasia akhirnya membuat hubungan cinta dua anak muda ini terancam pupus.
OUR FAMILY WEDDING

- Pemain: Forest Whitaker, America Ferrera, Carlos Mencia, Regina King, Lance Gross
Kalau ada yang bilang bahwa pernikahan dua orang yang saling mencintai adalah proses pernikahan dua keluarga besar jangan terburu menolak pendapat ini. Buktinya ini memang terjadi pada banyak orang termasuk Lucia Ramirez (America Ferrera) dan Marcus Boyd (Lance Gross) yang berencana untuk segera menikah.
Di mata Lucia dan Marcus, cinta adalah sesuatu yang tak mengenal batas. Meski Lucia adalah wanita berdarah Latin sementara Marcus adalah pria berkulit hitam, namun itu tak menghalangi cinta mereka. Lantas kalau masalah ras sudah tak jadi masalah, apa lagi yang bisa menghalangi mereka berdua? Jawabnya, kedua ayah mereka.
Keputusan Marcus dan Lucia untuk bertunangan dan akan segera menikah jelas sebuah malapetaka buat Bradford Boyd (Forest Whitaker) dan Miguel Ramirez (Carlos Mencia). Entah sejak kapan dua orang ini memang tak pernah akur dan jelas saja pernikahan anak-anak mereka akan membuat masalah jadi semakin keruh.
Berhasilkah Marcus dan Lucia meyakinkan ayah-ayah mereka untuk berdamai demi cinta mereka? Atau pernikahan mereka harus batal hanya karena perseteruan abadi ini.
THE KARATE KID

Pemain: Jackie Chan, Jaden Smith
Dre Parker (Jaden Smith) tak pernah ingin meninggalkan teman-temannya namun karena ibunya harus pindah ke Beijing maka tak ada pilihan buat Dre selain pasrah. Sebagai pendatang baru jelas masalah yang dihadapi Dre tidaklah mudah. Selain harus beradaptasi dengan lingkungan baru Dre juga masih harus berhadapan dengan para berandal di kota yang baru ini.
Saat berusaha untuk beradaptasi, Dre sudah dihajar habis-habisan oleh para berandal sebaya Dre yang rata-rata punya kemampuan bela diri tinggi. Dre hampir putus asa dan ingin kembali ke Amerika namun itu semua berubah ketika Dre bertemu Han (Jackie Chan) yang berusaha mengubah cara pandang Dre.
Han meyakinkan Dre bahwa satu-satunya cara untuk menghindar dari teror ini bukanlah dengan cara melarikan diri tetapi dengan menghadapinya. Dengan bantuan Han, Dre mulai mempelajari ilmu bela diri untuk melindungi dirinya dari ancaman para berandal yang tak pernah membiarkan Dre hidup tenang.
DID YOU HEAR ABOUT THE MORGANS?

Pemain: Hugh Grant, Sarah Jessica Parker, Sam Elliott, Mary Steenburgen, Elisabeth Moss, Michael Kelly, Wilford Brimley, Jesse Liebman
Selama menikah dan tinggal di Manhattan, Paul Morgan (Hugh Grant) dan Meryl (Sarah Jessica Parker) memang tak pernah kekurangan uang. Uang tak pernah jadi masalah buat keluarga Morgan ini. Yang jadi masalah justru adalah rasa cinta di antara mereka yang semakin lama semakin tipis dan pasangan ini terancam perceraian.
Di saat kondisi sudah semakin genting, terjadi satu peristiwa yang malah membuat hidup mereka jadi semakin kacau. Tanpa sengaja, pasangan Morgan ini menjadi saksi mata pembunuhan dan sebagai akibatnya mereka berdua menjadi sasaran berikutnya dari sang pembunuh yang tak ingin identitasnya terungkap.
Tak ingin terjadi sesuatu pada Paul dan Meryl, FBI lantas mengatur agar keluarga Morgan ini masuk dalam program perlindungan saksi. Paul dan Meryl mendapat identitas baru dan dipindahkan ke Wyoming yang notabene bukan kota besar seperti New York. Kini Paul dan Meryl terpaksa harus membiasakan diri dengan gaya hidup baru yang sama sekali asing buat mereka. Bisa jadi kesunyian alam di pegunungan membuat mereka berdua jadi semakin dekat dan bisa mengembalikan api asmara yang mulai padam atau malah di kesunyian alam ini suara ego mereka jadi berteriak lebih lantang lagi.
Kesalahpahaman adalah sumber lelucon yang paling sering dipakai dalam film komedi. Entah sudah berapa banyak film komedi yang menggunakan trik ini untuk memancing tawa penonton. Beberapa berhasil tapi tak jarang juga yang gagal. Dalam kasus film DID YOU HEAR ABOUT THE MORGANS? yang jadi sumber lelucon adalah 'kesalahpahaman' yang terjadi antara sepasang suami-istri dengan penduduk kota kecil di Wyoming.
Efektif atau tidak, sangat tergantung dari penonton sendiri. Lucu memang adalah kata yang sulit dijelaskan. Yang lucu buat beberapa orang belum tentu lucu buat orang lain. Secara garis besar, humor yang disajikan oleh sang penulis naskah, Marc Lawrence cukup bagus walaupun tidak bisa dibilang benar-benar materi baru.
Soal akting, Hugh Grant dan Sarah Jessica Parker juga tidak mengecewakan meski chemistry di antara mereka berdua sepertinya kurang terbentuk. Untungnya, masalah ini tertutupi dengan sajian visual yang sangat menarik. Secara garis besar, DID YOU HEAR ABOUT THE MORGANS? ini tidak menawarkan apa-apa selain suguhan visual dengan joke-joke ringan.